artikel


[Submitted by kendot on June 30, 2008, 11:42 pm]

                                      SIAPA YANG HARUS DISALAHKAN        

 

Oleh : Hendro N Sunandoro

 

Keterpurukan “hak” rakyat kecil semakin “digerogoti” sang penguasa. Bagaikan batu nisan yang terbengkalai di makan usia, sehingga “nilainya” mungkin bisa diabaikan.

 

Kerut penuh peluh semakin terlihat di wajah keriput manusia “tertindas”. Kehadiran “penguasa” yang selalu diharapkan oleh rakyat untuk perubahan masa depan yang “kemilau” tak pernah terwujud dengan semestinya. Kekuasaan telah mengaburkan “mata hati” sang regulator dengan dalih yang bermacam-macam “aroma”.

Sejarah pergerakan reformasi yang diperjuangkan mulai pudar terkontaminasi dengan kepentingan politik tertentu. “Janji tinggallah janji”, beribu alasan telah dikeluarkan dari mulut sang pemberi kebijakan namun yang ada hanya menambah penderitaan dan kesengsaraan rakyat kebanyakan.

Hampir satu bulan kemorat-maritan yang ditimbulkan oleh pemerintah akibat kenaikan BBM. Rakyat seakan-akan hanya dijadikan tumbal akibat apa yang dilakukan politik dunia yang semakin hari semakin tak tertuju arah.

Perhelatan yang timbul dalam lingkungan social, mengharuskan rakyat kecil berjuang memohon kepada yang regulator agar kembali menurunkan kenaikan BBM. Segala bentuk konspirasi dibentuk dengan tameng membela rakyat kecil. Namun secara lahiriah, kita tidak tahu dibalik konspirasi yang meng-atas-nama-kan demokrasi.

Fenomena demonstrasi hanya sebagai “penghias” perputaran regulasi yang diberikan kalangan tertentu. Simpati terus dilancarkan demi sebuah pencapaian tujuan agar terlihat “empati” di sela-sela nafas rakyat wong cilik. Kemunafikan terus mengalir dalam “darah pengorbanan”  yang terus di usung demi teraihnya satu singgasana.

            Seperti halnya kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) yang kian hari terus membingungkan rakyat kebanyakan. Kekisruhan seputar kenaikan BBM bisa menjalar ke segala aspek kehidupan. Stabilitas “pasar” terpengaruh mengikuti “arus” dan menjadi “tonggak” meraup keuntungan, walaupun kenaikan yang “terencana” itu belum tentu dijalankan oleh sang regulator. Perdebatan panjang tentang semua ini berjalan sesuai dengan konspirasi tertentu.

 

Namun apakah semua dapat menjadi titik pusat terjalinnya sebuah “reformasi” yang bisa memenangkan “hati” rakyat kecil?. Ataukah, rakyat hanya boleh menjadi “korban” regulasi penguasa?.

Demokrasi Indonesia yang seharusnya memihak kepada rakyat kecil karena aspirasi dan kekuasaan yang tertinggi ada pada rakyat. Sepertinya hal tersebut hanya sebagai penghias kata yang bias membuai sanubari rakyat yang mengharapkan kemerdekaan yang bebas. Tampang arogan terus dimunculkan oleh “sang penguasa”. Seakan tak melihat kehidupan yang semakin terkikis oleh alur waktu hingga hilang bagai abu disapu oleh angin.

Hal seperti ini orang mungkin akan betanya, “siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab?”. Mungkin akan beda hasilnya, andakan, kekuasan demokrasi yang sesungguhnya berada di tangan “sang pencipta”. Hanya Tuhan lah yang bisa mengatur dunia yang fana ini. Karena dia maha dari segala maha.

Disinilah letak kesalahan manusia. Karena sifat tamaknya bias membuat kehidupan menjadi senang dan sedih tergantung kepada hal apa yang sedang dirancang dalam benak pikiran.